Saturday, December 19, 2015

PUISI ANAK MALIDA MLONGGO



Everlasting Love
Oleh : Aghny Akromuddin El Haq

Pagi itu begitu sejuk. Langit yang tampak kuning tak dibayang-bayangi pohon. Di dalam sebuah rumah dibalik jendela yang terbuka terdengar suara nyanyian burung yang indah. Aku merapikan tempat tidur dan bersiap untuk mandi, dan setelah mandi aku berkumpul sejenak dengan keluargaku untuk sarapan pagi. Waktunya untuk pergi sekolah, aku dan adikku diantar oleh ayah. Adikku sekolah di MI dan aku sekolah di Mts kelas 8.
Jam menunjukkan pukul 01:00 waktunya pulang sekolah,tanpa menunggu lama aku sedah di jemput ayah di depan gerbamh sekolah. Setelah sampai di rumah aku bergegas berganti pakaian dan menuju ke ruang makan untuk makan siang. Siang itu tersa panas, membuat kami berkipas-kipas gerah. Karena siang itu tidak ada kegiatan, aku mengajak adikku untuk memancing di kolam belakang rumah, adikku pun setuju dengan ajakanku dan kami mempersiapkan alat untuk memancing.
“Bu, kami mau berangkat macing ikan dulu yaa...!” pintaku pada ibu sambil membawa alat-alat pancing itu.
“Ya, hati-hati, jaga adikmu baik-baik jangan sampai sore pulangnya nanti ayah marah” pesan ibu pada kami.
Begitu sampai aku dan adikku begitu semangat mencari umpan di sawah dekat kolam. Matahari begitu terik dan terasa panas, namun tidak menurunkan semangat kami untuk cepat-cepat ingin mendapatkan ikan yang besar dan banyak. Setelah sekian menit kami memancing, banyak sekali ikan yang kami dapat ,mulai dari ikan lele, ikan gabus dan lain-lain.
Tak terasa, matahari sudah beranjak menuju senja. Matahari sudah terlihat putih kemerahan dan tak terasa panas lagi. Karena sudah sore, aku dan adikku bergegas pulang. Ikan yang kami dapatkan pun lumayan banyak, lebih dari cukup untuk makan malam bersama keluargaku. Sesampainya di rumah, ibu tampak senang dengan ikan tangkapan kami, karena ikan tangkapan kami terlihat banyak dan besar-besar. Ikan itu masih hidup-hidup, lalu kami tampung dalam ember yang besar.
“Bu, kita goreng saja ikan ini untuk makan malam kita?” tanyaku dengan senang.
“Iya, nanti ibu goreng ikannya.” Jawab ibu.
Lantas ikan sudah berada dalam ember itu, aku simpan di dapur rumah dengan ditutup oleh talam besar dan atasnya diganjal dengan batu agar ikannya tidak melompat keluar. Sembari menunggu ibu menyiapkan bahan untuk menggoreng ikannya, aku bergegas mandi dan sholat maghrib. Ikan yang tadi kami pancing, kini sudah mati dan di goreng untuk santapan makan malam kami.
Setelah makan malam, kami bergegas sholat isya’. Kami berkumpul di ruang keluarag sembari menonton tv bersama keluargaku. Kami saling mengobrol tentang pengalaman kami pada siang tadi.
Setelah hari kemarin berlalu, hari ini adalah hari libur. Aku menunggu temanku yang biasanya mengajak aku untuk lari-lari pagi di sekitar desa. Aku masih menunggu di depan rumah sambil meregangkan otot agar tidak merasa kaku. Sudah 30 menit aku menunggu, namun tidak kunjung datang juga. Akhirnya, aku pergi lari-lari seorang diri sembari melihat pemandangan yang indah di pagi hari. Kakiku sudah mulai teras pegal, aku putuskan untuk kembali ke rumah.
Sampai dirumah, ibu telah siapkan sarapan pagi. Tak lama kemudian adikku datang menghampiriku di ruang makan.
“Kak, hari ini kakak ada acara apa?” tanya adikku sambil mengambil nasi.
“Kakak tidak ada acara, memang kenapa?” tanyaku balik.
“Nggap papa, nanti kita pergi ke pantai ya kak?” tanya adikku kembali.
“Ayo, mandi dulu gih sana.” Kataku
Setelah selesai makan, aku segera mandi dan bersiap untuk pergi ke pantai bersama adikku. Aku pergi ke garage untuk mengambil motor.
“Ayo dik cepat nanti kesiangan, kan panas” kataku sambil menghidupkan motor.
“Iya-iya sebentar” jawab adikku
Selang beberapa menit adikku datang, dan aku langsung menstarter motorku dan langsung  pergi ke pantai. Dalam perjalanan aku melihat pemandangan yang sangat indah dan mempesona,aku baru tahu ternya beginilah suasana di desaku pada pagi hari. Setelah sampai di pantai aku bergegas turun dari motor dan berjalan ke bibir pantai. Airnya sangat sejuk dan dingin, ku basuh mukaku dengan air laut yang biru. Tampak dari kejauhan perahu nelayan yang pulang dari melaut. Mereka sudah biasa pergi melaut hingga berhari-hari, namun jika cuaca kurang baik mereka tidak berangkat melaut. Tidak jarang jika mereka tidak mendapat penghasilan jika mereka tidak melaut.
Hari menjelang siang, matahari sudah terik aku dan adikku bergegas pulang. Sampai dirumah ibu dan ayah sedang santai di depan rumah sambil berkipas-kipas gerah, seperti hari kemarin yang sangat panas. Hari ini kita mengobrol saja, semua tertawa dan tampak bahagia.
“Siapa yang ingin makan ice cream” tanya ibu.
“Aku, aku....” jawabku,adikku, dan ayahku.
“Ibu ambil ice creamnya dulu di kulkas” kata ibu
Sembari menunggu ibu mengambil ice cream, aku mengambil makanan ringan didapur rumah. Selang beberapa menit ibu kembali dengan membawa ice cream yang ia tawarkan kepada kami.
“Aku mau yang rasa jeruk” teriak adikku.
“Aku juga mau yang rasa jeruk” kata ayahku sambil memegangi tangan adikku.
“Emmm, aku mau yang rasa nanas” kataku sambil meminta ice cream kepada mama.
“Iya iya sabar dulu, nanti ibu ambilkan lagi” kata ibu.
            Akhirnya sekian lama kami menunggu Ibu, Ibukupun datang juga dengan membawa Ice Cream yang ibu janjikan kepada kami. Tak terasa beberapa menit kami menikmati Ice Creamnya, ternyata sudah habis. Aku bergegas pergi ke dapur untuk mencuci tangan yang terasa lengket karena terkena ice cream.
            Tak terasa haripun sudah menjelang sore, selang beberapa menit temanku datang dan mengajakku bermain sepak bola. Tanpa ijin kepada ibu dan ayahku, aku langsung pergi saja dengan temanku kelapangan dekat sekolah adikku.
Sudah beberapa jam aku bermain sepak bola, walaupun begitu teman-temanku tidak tampak keletihan, mereka masih semangat dan ingin mencetak gol lebih banyak. Namun hari sudah menjelang petang, akhirnya aku mengajak untuk pulang.
Setelah sampai dirumah, aku di panggil ibu,
“Kemana kamu pulangnya sore begini” tanya ibuku dengan wajah kesal
“Dari lapangan” jawabku sambil menatap lantai
“Kok gak bilang sama ibu dulu kalau kamu pergi” tanya ibuku kembali
“Iya maaf bu, aku tidak akan mengulanginya lagi” jawabku kembali
“ya sudah mandi sana” suruh ibuku
Akhirnya aku bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku pergi ke dapur untuk makan, namun setelah saya mengambil nasi ternyata ibu belum memasak lauknya, lalu aku mengambil telur di kulkas dan menggorengnya. Tak butuh waktu lama telur gorengnya sudah matang, sembari menunggu telur gorengnya tak panas lagi aku membuat es sirup. Setelah itu, langsung aku makan sampai habis.
hari sudah mulai larut malam, aku pergi kekamar dan tidur dengan nyenyak.

3 comments: